Zorv : Terus Berkarya, Jangan Hanya Berwacana

Walau masih band kemarin sore, kawanan grunge Surabaya ini telah berbicara lebih, lewat karya tentunya.

Image

Zorv (Dari kiri : Balqi, Danishwara, Ragyl)

Dua tahun lalu ketiga laki-laki ini bukan siapa-siapa. Membawa lagu Nirvana, Pearl Jam, hingga Black Sabbath dari gigs ke gigs sebagai band pembuka sebelum band yang lebih senior dari mereka tampil, sudah jadi menu wajib tiap manggung. Tapi kini mereka melesat dengan Savage, bahkan menyalip band-band senior tadi.

“Bahkan dua tahun lalu ketika baru masuk Zorv (main) drumku masih kacau. Mulai ngeband pertama itu jadi vokalis. Di Zorv ini ya aku mulai beneran belajar ngedrum, walaupun kalau dari nol di band sebelumnya sih, tapi terus aku dikeluarin (dari band itu) disuruh belajar dulu. Ya Zorv ini jadi pembelajaranku,” kenang Balqi, pemain drum Zorv kepada Praoto.

Beruntung Balqi bertemu Danishwara (vokal) dan Ragyl (bass) yang berkenan menjadi teman belajarnya. Begitu juga dengan Danish dan Ragyl yang beruntung bertemu Balqi karena sebelumnya Zorv tak pernah sesolid ini. Dari awal terbentuk, tercatat sudah empat orang yang pernah berada di balik set drums Zorv, hingga akhirnya mereka bertemu Balqi dan formasi ini lah yang bertahan hingga kini.

Belakangan, Zorv jadi bahan perbincangan setelah merilis album penuh pertama mereka, Savage akhir Januari lalu. Padahal trio grunge Surabaya ini mengaku baru terbentuk tahun 2011. Perjumpaan dengan sang manajer, Nawi yang tak lain adalah frontman dari band Never Ending Story, cukup mengubah cara pandang band ini tentang makna ngeband.

“Awal aku ketemu mereka, tiga anak ini juga belum tahu mau membawa Zorv ke mana. Dari situ, dari pertama mendengar sound mereka, aku langsung punya keinginan : band ini setidaknya harus punya album,” cerita Nawi yang mengenang perjumpaan pertamanya dengan Zorv di acara mingguan sebuah radio swasta, Tuesday Outloud.

Jadwal panggung pun kian padat. Teman-teman satu per satu berdatangan membantu mereka untuk, setidaknya melakukan apa yang mereka bisa. Dari teman-teman itu ada yang akhirnya menjadi fotografer, videografer, sesekali ada yang menjadi soundman dan kru, hingga additional player ketika salah satu dari personil berhalangan hadir di sebuah jadwal manggung.

Savage bisa jadi hasilnya. Sebuah album penuh pertama yang kini telah rilis secara nasional melalui label mereka sendiri, Wellstain Records dan pendistribusiannya dibantu oleh label demajors.

Berikut petikan wawancara eksklusif Praoto dengan Zorv ketika ditemui di sebuah cafe di bilangan Surabaya Pusat akhir bulan lalu. Mereka membeberkan cerita di balik album Savage, arti nama Zorv, lambang rusa yang identik dengan mereka, hingga tanggapan mereka tentang lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang berada di kota ini, Dolly.

Bagaimana Zorv? Apa kabar? udah cari di Google, udah ada free download album Savage belum ? (tertawa)

Danish : (Tertawa) belooom, harusnya belum

(Tertawa) Ya jangan sampai, lha kalo misal sampai ada bagaimana?

Danish : Yaa pembajakan tidak bisa diatur ya kan, ya itu suatu fenomena. Ya tapi kalo orang suka, download ya gakpapa..ngetes. Kalo dia sukapun dia pasti akan beli.

Ragil : Pembajakan nggak bisa dihindari seratus persen,  ada banyak cara. Tapi untungnya sampai sekarang sih masih belum. Tapi untuk menghindari hal itu kayaknya belum bisa, pasti sebulan atau dua bulan lagi pasti sudah ada.

Oke. Hmm.. Nama Zorv sendiri itu dari mana?

Danish : Nama ngasal aja sebenernya. Waktu kecil dulu punya robot imajinasi namanya Zorg, pake huruf “g”. Tapi setelah diobrolin sama anak-anak kok enak pake huruf “v”, akhirnya jadi Zorv aja. Apalagi ada juga band luar negri namanya Zorg, jadi diubah dikit yang ga ada ya jadinya Zorv. Trus ada juga band Surabaya namanya Zora kalo ga salah.

Kalau disuruh mendefinisikan musik kalian, kalian memainkan musik apa ?

Danish : Kalo dari kami sih pengennya disebutnya rock alternative aja sih. Cuma banyak dipengaruhi oleh musik grunge ya jadinya post-grunge. Kenapa kami ga bisa disebut grunge, karena menurut saya grunge itu udah nggak ada, grunge itu adalah fase yang ga bisa balik lagi, jadi yang terpengaruh musik grunge sekarang cuma bisa disebut post-grunge.

Memang kalian bertiga ini memang suka 90’s sounds semua ?

Danish : Sebenernya kami semua suka, Cuma based on nya beda-beda.

Dasar musik pertama kali kalian ngeband itu apa sih ? Biasanya habis degerin musik apa tiba-tiba kepikiran “ancok pengen ngeband ahh” !?

Danish : Saya sendiri dulu suka dengerin metal, classic rock juga, Led Zepplin, Rage Against The Machine. Trus ketemu Ragil yang suka Punk, sama Balqi yang suka Garage. Yaa diambil tengahnya aja sih.

Ragil : Ya kalo untuk Zorv pertama kali sih pastinya yang grunge 90’an, alternative, ya kayak Nirvana.

Balqi : Aku dulu dengerin pertama itu ya kayak The Strokes, Mooney Suzuki, sama The Datsuns.

Tentang album Savage . Apa yang ingin disampaikan kalian?

Danish : Sebenernya sih imajinasi aja sih, setiap orang kan pasti punya imajinasi, entah itu imajinasi indah, imajinasi buruk, imajinasi menengah, imajinasi gak jelas, ya itu masuk semua di album Savage. Jadi numpahin pikiran normal manusia aja sih, gak mengarah kemana-mana cuman kayak pikiran yang kalo kita merenung gitu kan pasti pikiran itu lebih dalam, ya yang coba pengen disampaikan itu sih, tidak konvensional omongan-omongan biasa tapi coba ngeluarin hal itu.

Berarti liriknya berkisar apa nih ? tentang hidup, tentang sosial kah ?

Danish : Ya yang kita pikirkan itu kan macem-macem, ada kehidupan buat diri sendiri, dan buat orang disekitarnya. Jadi di Savage ini gak terlalu mengarah kemana gitu tapi ya semua fenomena manusia aja.

Ini yang bikin lirik Danish semua ? Sosialnya ini yang mengkritik ato yang mendeskripsikan aja ?

Danish : Ya. Mendeskripsikan aja, saya tidak mengkritik, saya cuma berpendapat aja.

Kenapa sosial, kenapa gak lirik cinta-cintaan kan sedang trend, denger-denger lagu yang berjudul “Violet” ini kisah cintanya seorang Danish ini, apa bener gitu ?

Danish : (Tertawa) bangsat ! ya beli aja albumnya, baca liriknya yaudah itu yang dikeluarin. Yaa makanya setiap orang merenung kan macem-macem bisa semua fenomena sampe ke situ ya pasti ada dong, jadi savage ini kesemua sudut pikiran.

Katanya di preview album Savage itu berhubungan dengan pikiran liar manusia, seliar apa sih kalian?

Danish : Ya liar disini bukan berarti kayak mabuk-mabukan trus narkoba ya enggak sih, liar itu maksudnya ya karena pikiran random. Jadi pikiran kita itu udah kayak alam liar sebenernya, suka kemana-mana gitu ya kan, pikiran-pikiran yang nggak jelas, yang nggak kepikiran, ya kita coba satuin pikiran liar itu ya di Savage ini. Jadi di album ini isinya ya pikiran-pikiran liar itu tadi. Bukan liar yang nakal gitu.

Lalu kenapa cover album Savage itu hewan rusa ? kenapa nggak badak, harimau dan hewan liar lainnya ? Dan sepertinya rusa sudah menjadi seperti imej kalian sejak awal hadir

Ragil : Pertanyaan ini sering ditanyakan. Rusa itu disini maksudnya rusa liar yang jenis … yang gede itu. Rusa itu kalo orang-orang liat itu nggak liar, tapi sebenernya sangat liar. Kayak, “eh rusa itu lucu” tapi sebenernya nggak lucu. Sebenernya pengen nunjukin kayak misalnya Balqi ini lucu tapi sebenernya Balqi ini nggateli (tertawa). Jadi rusa itu refleksi dari kami, rusa itu gambaran dari kami.

Masa pengerjaan album cepat sekali, untuk ukuran band Surabaya, kalian hanya setahun sudah bikin album. Memang dari awal udah ditarget ? atau apa sih yang membuat semua ini begitu cepat?

Danish : Sebenernya kita berterima kasih pada manajer kita mas Nawi NES, jadi awalnya ngeband iseng-iseng aja trus ketemu mas Nawi yang tertarik manajerin kita dan kita dibimbing lah ya kaya : “ngeband tuh seharusnya gini”, jadi coba kita ikutin dan ternyata asyik dan sesuai yang kita inginkan, yaudah kami jalanin.

Ragil : Justru sebelumnya nggak ngerti mau ngapain paling yo wes ngeband, paling rekaman satu atau dua lagu, awal targetnya sih cuman EP tapi begitu kami ketemu mas Nawi dia bilang : “ngapain?? nanggung bikin EP, kenapa gak langsung full album ?”

Rencana promo?  mau ada tur kah ? apa agenda Zorv ke depan ?

Danish : Paling deket ada launching pastinya bulan Maret ini, paling lama April lah masih diusahakan. Ya next sih karena udah digandeng demajors jadi lebih enak buat tur. Ya kayaknya ke kota-kota besar dulu lah. Rencana tur tahun ini sih, tapi mau menggandeng band siapanya masih belum tahu.

Ada pesan-pesan dari Zorv untuk teman-teman scene musik Surabaya ?

Balqi : Yang penting terus produktif, nggak usah ngegap-ngegap, terus berkarya, saling merangkul. Surabaya kan track record-nya kota rock, ya itu dikembangin.

Ragil : Banyak-banyaklah berkarya yang lahir dari diri sendiri daripada cuma ngeributin karya orang lain.

Danish : Hmm apa ya (berpikir)… Menurut saya bersaing itu perlu tapi yang positif aja, karena kita musisi ya bersaingnya lewat musik. Karena disini kita sebagai seniman ya tunjukan dengan seni yang kamu punya.

Terakhir. Kabarnya ini kan tahun 2014 dolly mau ditutup, gimana menurut kalian ?

Danish : Yaa kalo Dolly ditutup pun masih banyak orang yang jajan selain di Dolly, jadi kalo ditutup ya terserah pemerintah tapi nggak bisa diberhentiin juga sih ya karena salah pemerintah juga udah membiarkan berapa puluh tahun, ya udah jadi trademark gitu ya kan. Tembok Berlin udah runtuh tapi itu keputusan pemerintah dulu bikin Tembok Berlin dan sampai sekarang sampai ada merchandisenya, nanti ada merchandise “dolly legend” bisa kan (tertawa)

Ragil : Nggak terlalu ngurusin juga sih, toh nggak pernah ke Dolly, gak pernah tau Dolly itu seperti apa. Maksudnya ya ditutup nggak apa-apa dan kalo diterusin juga nggak apa-apa (tertawa)

Balqi : Hmm… Kalo aku sih NEVERMIND!

(Semua tertawa)

(mbon/zaq)

Foto : Rio Dinata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s