Komunitas Jazz C TwoSix Terus Bertahan Menuju Usia ke-10

Image

Menuju ulang tahun ke-10 pada April nanti, C TwoSix,  sebuah komunitas pecinta dan pelaku musik jazz kota Surabaya, tetap ramai mendatangi gathering bulanan mereka. Obrozeni Jazz. Tak satu pun terlihat di raut wajah para anggotanya datang hanya untuk kumpul-kumpul lalu bersenda gurau. Mereka benar-benar datang untuk melihat, mendengarkan, bahkan belajar jazz.

Pemandangan seperti ini jelas berbeda dengan apa yang terjadi di festival-festival jazz besar yang belakangan ini marak menjadi ajang pamer gaya hidup dan temu kangen di negeri ini. Alih-alih menikmati konser jazz di hadapan mereka, para penonton “mendadak jazz” ini (jika boleh meminjam istilah Barry Likumahuwa) malah asyik berponsel ria untuk sekedar update status di twitter atau check in via four square.

Bagaimana dengan para penampil? Beberapa dari penonton yang ber-gadget tadi masih menyediakan gadget lainnya yang berukuran lebih besar lalu mencoba merekamnya dengan gadget itu. Penampil mungkin mendapat apresiasi dengan rekaman si penonton itu, namun penonton lain di belakang tak sedikit yang menggerutu karena pandangan mereka terganggu oleh si empunya gadget tadi.

Fenomena-fenomena seperti itu mungkin lazim ditemui di beberapa festival besar berembel-embel jazz. Namun hal itu tidak akan ditemui di sebuah gang kecil di jalan Medokan Asri Utara 4 no. C-26. Semua yang datang di acara jazz gugahan komuntas C TwoSix ini benar-benar datang untuk jazz. Salah satunya dalam acara bertajuk Obrozeni Jazz, 20 Maret lalu.

Tak ada “penonton ponsel” beraksi di sela-sela acara, begitu juga dengan “penonton ngrumpi” yang nyaris tak ditemui di acara bulanan tersebut. Semua mata tertuju pada pengisi acara. Dengan begitu telinga dan mata pun dapat dengan nyaman menikmati jazz di hadapan.

Susunan acara Obrozeni Jazz tak melulu menampilkan band. Acara justru dimulai dengan klinik keryboard oleh pianis jazz muda Surabaya, Bagus Adimas. Dalam kliniknya,Bagus yang juga merupakan murid pianis legendaris Bubi Chen ini menjelaskan bahwa tak perlu teori “ndakik-ndakik” dalam bermain jazz, melainkan “soul” jadi hal yang utama.

Usai klnik dari Bagus, hadir penampilan band, diantaranya Two Five One dan penampilan dari Dita “The Voice”, solois wanita Surabaya yang sukses memukau Indonesia di babak audisi ajang pencarian bakat “The Voice” beberapa waktu lalu. Setelah penampilan band, acara dilanjutkan dengan jamming session.

“Semua yang datang ini ada yang anggota lama, tapi nggak sedikit juga yang orang-orang baru, yang akhirnya memutuskan gabung jadi member, Yang jelas mereka semua yang ke sini memang pingin tahu jazz” jelas Insyafie Yuliansyah, Ketua C TwoSix.

Komunitas jazz C TwoSix sendiri berdiri sejak tahun 2003. Nama C Two Six diambil dari “C-26”. nomor rumah tempat komunitas ini selalu berkumpul. Rumah bernomer C-26 ini tak lain adalah milik pendiri komunitas C TwoSix yang akrab disapa Cak Rudi.

Di teras rumah tersebut sudah tersedia alat-alat band seadanya lengkap dengan sound system-nya. Terop pun ditegakkan di depan rumah demi melindungi para penonton dari guyuran hujan. Jajanan ringan dengan kawan setia : air mineral, teh, dan kopi hangat juga disuguhkan demi kenyamanan pengunjung.

“ Kekeluargaan. Itu yang membuat kita bertahan sampai hampir sepuluh tahun. Setiap ada acara kami selalu ingin membuat pengunjung nyaman, entah itu anggota atau bukan. Banyak pula dari pengunjung-pengunjung baru itu, ketika melakukan jam session di sini, jadi membentuk sebuah band,” cerita Insyafie lagi.

Tercatat sudah ada empat ratus anggota lebih yang dimiliki oleh C TwoSix. Beberapa dari mereka diakui Insyafie banyak yang sudah tidak menetap di Surabaya, namun masih saling mengontak demi kepentingan komunitas dan perkembangan jazz di kota Surabaya.

Bekerjasama dengan salah satu produsen rokok, di awal hidupnya, komunitas ini rajin menggelar acara-acara jazz rutin tiap tahunnya. Cafe dan kampus kerap menjadi sasaran komunitas ini dalam mengagendakan acara jazz.

“Dulu kami juga sempat membuat Jazz to Campus, hampir mirip dengan apa yang dibuat anak-anak UI. Dari acara ini kami dapat menemukan bakat-bakat baru musik jazz dari para mahasiswa. Sempat jalan tiga tahun namun terhenti, lagi-lagi karena alasan finansial,” ungkap Insyafie lagi.

Meski terbilang akur karena suasana kekeluargaan yang dibangun, namun C TwoSix pernah berada dalam era-era terkelam mereka. Setelah tahun 2008, C TwoSix dapat dikatakan hilang ditelan bumi.  Tak satu pun gelaran yang dihelat atas nama mereka. Walaupun begitu, diakui oleh Insyafie mereka masih sering berkumpul di masa-masa vakum itu.

Setelah tahun 2011, C TwoSix kembali eksis. Agenda baru : Obrozeni Jazz menjadi jadwal bulanan komunitas ini untuk setidaknya saling bertemu dan berbagi musik jazz di sesama mereka.

Bulan depan C TwoSix akan berulang tahun. Sebuah acara besar pun telah dipersiapkan oleh para pengurus. “Ya semoga dananya mencukupi. Soalnya sekarang agak susah juga membuat acara jazz yang benar-benar jazz yang dilirik oleh para sponsor,” ungkap Insyafie kritis. (zaq)

foto : Achmad Miftachudin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s