Sunday Talk : Diskusi Musik Singkat Namun Padat

image

Panasnya siang itu, Minggu, 24 Maret lalu tak menyurutkan semangat para peserta diskusi “Sunday Talk” di Brew & Co, Surabaya Town Square. Diskusi santai yang dihadiri oleh muda-mudi ini merupakan salah satu rangkaian dari acara “Sunday Market : London Calling You”.Mayoritas peserta Sunday Talk memiliki minat dan latar belakang di industri musik. Terang saja, diskusi kali itu bertemakan band & records label management dengan pembicara Satria Ramadhan, founder SRM Band Management, sebuah manajemen band yang menaungi Rumah Sakit, Bangku Taman dan Sore, serta Achmad Marin pendiri FFWD Records, label rekaman asal Bandung yang sukses menelurkan Mocca dan The S.I.G.I.T

Dengan dimoderatori oleh Anitha Silvia dari C2O Library & Collabtive ini, suasana diskusi berlangsung santai namun tetap serius. Meski awalnya sempat malu-malu untuk mengisi barisan depan kursi peserta diskusi, namun lambat laun rasa antusias di wajah para peserta mulai terlihat ketika Ahmad Marin menjelaskan bagaimana awal mula ia merintis FFWD records.

Mocca sebagai band pertama yang dinaungi FFWD Records ternyata membawa keberuntungan bagi Marin, sapaan akrab Ahmad Marin. Di album pertamanya, Mocca memiliki angka penjualan yang fantastis hingga menembus ribuan keping kaset.

Keberhasilan Mocca ini membuka peluang bagi band-band lain yang bergerak di jalur independen. Sebut saja White Shoes and the Couples Company, The S.I.G.I.T, Goodnight Electric pun sukses di bawah bendera FFWD Records. Bahkan Mocca dan The S.I.G.I.T telah berhasil menembus pasar internasional.

Marin mengaku dalam membesarkan band-bandnya sudah seperti membesarkan seorang anak. “Band itu udah kayak anak, digedein, disekolahin, dididik gimana caranya bersaing yang sehat dengan band-band lain, trus kalo misal band itu udah ngerasa gede dan mau lepas, ya udah dilepas,” jelas pria berkacamata ini.

Berbeda dengan Marin, Satria Ramadhan, pendiri SRM Band Management justru mengawali karirenya sebagai manajer band dengan memposisikan diri sebagai penggemar band-band yang dimanajerinya. “Gue selalu memposisikan diri sebagai fans band-band yang gue manajerin, kayak Bangku Taman, Sore, Ballads of The Cliche, Rumah Sakit, gue ngefans semua. Dengan begitu gue jadi merasa bertanggung jawab harus membuat band-band yang gue suka jadi besar,” ungkap pria yang mengaku telah memiliki sembilan band di bawah naungan SRM band management.

Meskipun memiliki cara yang berbeda dalam membesarkan masing-masing band asuhannya, baik Marin maupun Satria sama-sama diperhitungkan dalam industri musik Indonesia. Kedua pria ini telah berhasil menelurkan band-band berkualitas dengan basis fans yang cukup banyak meskipun melalui jalur independen. Untuk itu, secara eksklusif dalam Sunday Talk kali ini Marin dan Satria akan membagikan tipsnya bagi yang ingin menyeriusi bidang manajemen band ini.

Tips dari Satria Ramadhan (SRM band management): – Membuat profil band semenarik mungkin. – Membuat demo yang jelas. Tidak perlu bagus-bagus karena akan membutuhkan banyak biaya. Boleh saja direkam lewat handphone/laptop/ Ipad, yang penting terdengar jelas konsep musik yang diusung oleh band tersebut. – Penjadwalan sangat perlu, baik itu untuk latihan, gigs, maupun recording. Jangan sampai ada personil band yang tidak mood karena jadwal ngeband bertabrakan dengan urusan pribadi personil.

Sedang, Ahmad Marin (FFWD Records) membagikan tipsnya sebagai berikut: – Bertemanlah dengan siapa saja karena akan membantu melebarkan jaringan yang berguna untuk kelangsungan band. – Tidak perlu takut bersaing dengan net label yang banyak bermunculan saat ini. Tetap setia dengan menjual rilisan fisik ditambah dengan berjualan merchandise band.

Berlangsung sekitar dua jam, diskusi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab antara para peserta dengan narasumber. Acungan jari pun satu per satu muncul dari barisan penonton malu-malu ini. Lagi-lagi waktu menjadi pemicu berakhirnya diskusi seru Sunday Talk siang itu. Beberapa peserta mengaku kecewa karena belum sempat bertanya sementara diskusi harus segera diakhiri karena durasi.

“Padahal ada satu pertanyaanpenting yang mau saya tanyakan tuh sama dua narasumber tadi. Mungkin Marin dan Satriasukses karenadidukung dengan atmosfer scene musik kotamereka yang mendukung pula. Sementara kita? Scene musik Surabaya masih terlalu sulit untuk diajak maju dan lebih serius berindustri. Telebih mereka juga masih ngegap-ngegap,” ungkap salah satu peserta yang tak mau namanya disebut itu. (nit)

Foto : Prima Kirtti Utomo

▶ Show quoted text

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s