Sunday Market Gaungkan Riuh Rendah Kaum Kreatif Kota Surabaya

Image

Suasana Sunday Market Minggu, 24 Maret lalu

“Sunday Maket : London Calling You” memang telah lewat dua minggu yang lalu. Namun canda tawa di dalamnya, hiruk pikuk pasar malamnya, serta kegilaan di atas dan di bawah panggungnya (baca : crowd) masih “mengganggu” hingga kini.Scene indie pop Surabaya tak pernah se-“pecah” Minggu malam (24/3) lalu belakangan ini. Crowdsurfing, moshing, dan beberapa hal gila lainnya dalam kerumunan penonton konser mungkin lazim terjadi di scene musik cadas di kota ini. Namun malam itu, semua angggukan kecil, lipatan tangan, dan sikap “enggan bergoyang” itu hilang di panggung musik Sunday Market.

Adalah senior indie pop, Rumah Sakit yang bertanggung jawab memecahkan kegilaan penonton hingga rela untuk secara bergantian digotong di depan bibir panggung persis ketika band asal Jakarta itu beraksi. Bahkan sang vokalis, Andri Ashari turut tergoda merasakan gotongan arek-arek Suroboyo yang terlanjur menggila di tengah-tengah lagu “Pop Kinetik”.

Wes yo rek, wes tuwek iki (sudah ya, sudah tua ini),” kata Andri dengan bahasa Suroboyoan seraya menghentikan aksi crowdsurfing yang ia lakukan sendiri. Penonton pun menurunkan Andri dan segera mencari “korban” lainnya untuk digotong di lagu selanjutnya.

“Arek-arek Suroboyo masih gendheng (gila). Kalian nggak berubah. Sama seperti ketika terakhir kali kami manggung di sini sepuluh tahun lalu, tepat setahun sebelum kita bubar. Kalian tetap terbaik rek!,” tutur Andri di sela-sela Rumah Sakit masih membawakan dua lagu permbuka mereka.

“Anomali”, “Nol Derajat”,”Sirna”, hingga lagu baru “Bernyanyi Menunggu”  dibawakan secara penuh suka cita oleh Andri dkk selama kurang lebih satu jam. Penonton benar-benar “tinggi” ketika “Pop Kinetik” dan sebuah lagu encore, “Hilang” dibawakan.

Michrophone yang dipegang Andri berkali-kali menjadi korban kudeta para penonton yang ingin ikut bernyanyi bersama band pujaan mereka itu. Vokali berjuluk Andri “Lemes” ini pun lantas pasrah saja dan menunggu penonton mengembalikan mic tersebut kepada dirinya lagi.

Acara yang bertempat di Surabaya Town Square (Sutos) ini seperti mengalami ejakulasi dini ketika Rumah Sakit tampil. Padahal setelah band jebolan IKJ ini tampil masih ada Polyester Embassy yang juga telah ditunggu oleh muda-mudi Surabaya. Disparitas usia penonton yang maju ke bibir panggung ketika Rumah Sakit dan Polyester Embassy bermain, sungguh terlihat jelas.

Para penonton “senior”, yang rajin hadir di konser-konser di Surabaya era 2000-an awal tiba-tiba hadir di tengah-tengah kerumunan dan ikut berjingkrak bersama. Meski begitu tak sedikit pula muda-mudi Surabaya usia belasan tahun yang turut bernyanyi-nyanyi kecil ketika Rumah Sakit tampil.

Polyester Embassy yang bertugas sebagai pemuncak acara juga tak kalah ramainya. Bedanya, kali ini para penonton “junior” lah, yang rata-rata masih belia, yang antusias melakukan headbanging kecil mengikuti alunan musik yang dibawakan kawanan rock eksperimental ini.

Latar panggung dengan tata grafis minimalis nan dinamis khas musik post rock melengkapi penampilan Elang Eby (gitaris/vokalis), Sidik Kurnia (gitaris/synthesizer), Ekky Darmawan (gitaris/sampling), Ridwan Aritomo (bass), dan Givarie MP (drummer) dalam membawakan sejumlah hits mereka dari album pertama hingga album kedua.

Sebut saja “Faded Blur”,”Air”,“Space Travel Rock N Roll”, hingga single yang membawa penonton ke dalam fase headbanging terkhidmat mereka, “Polypanic Room” dibawakan secara memukau malam itu. Sayang, single yang mereka rilis dalam beberapa versi dan dikemas dalam sebuah album mini Oktober tahun lalu, “Have You” tak mereka bawakan. Padahal lagu tersebut berkali-kali diteriakkan penonton agar band pujaan mereka mau membawakannya.

Sebelum Rumah Sakit dan Polyester Embassy, dua band tuan rumah, The Wise dan Hi Mom! juga tampil membius ribuan muda-mudi Surabaya yang hadir. Supergrup The Wise, dimana personilnya merupakan gabungan pentolan band-band lawas di Surabaya membuka panggung Sunday Market dengan apik. Mengaku terpengaruh sound milik Two Doors Cinema Club, Coldplay, The Temper Trap, hingga The Script, The Wise langsung mendapat sambutan meriah dari penonton malam itu.

Panggung pun dilanjutkan dengan band yang mengklaim diri mereka “band peduli lingkungan”, Hi Mom! Membawakan lagu-lagu dari EP Gerimis Saat Kemarau seperti “Titik Balik yang Sempurna”, “Semua Menjadi Bara”, hingga lagu penutup “Menuju Rumah”, Khukuh A. Yuda dkk selalu disambut sing along penonton di sepanjang penampilan.

Sunday Market  sendiri sebenarnya bukanlah gelaran yang difokuskan untuk konser musik semata. Seperti pemberitaan sebelumnya, acara yang kali ini bertemakan “London Calling You” ini bertema besar flea market yang mengkombinasikan fashion, musik, art (seni rupa dan visual), serta kuliner.

Tak hanya itu, di siang harinya sebagai acara pembuka, Sunday Market juga menyuguhkan sebuah diskusi ringan bertajuk “Sunday Talk”. Hadir sebagai pembicara salah satu pendiri label independen asal Bandung, FF/WD Recods, Achmad Marin Shamsoedharma dan penggagas unit manajemen band, SRM Band Management, Satria Ramadhan.

Hal-hal seputar manajemen band dan perkembangan label independen di Indonesia menjadi pokok bahasan utama dalam diskusi siang itu. Diadakan di Brew & Co Café, Sutos, diskusi kecil ini dihadiri oleh sekitar tiga puluh orang peserta.

Total terdapat 108 stan yang terdiri dari stan penjualan pakaian, makanan, produk-produk kreatif baik karya pribadi, kolektif independen, maupun dari lembaga pendidikan, salah satunya stan milik Despro ITS : IDE ART 2013 mengisi acara yang didatangi oleh hampir sepuluh ribu pengunjung ini.

“Di Sunday Market ini kami lebih banyak menggandeng para pekerja kreatif kota ini. Ada Praoto Zine dari pihak media, c2o Library, label yang mengkurasi album-album musisi Surabaya seperti Potlach, institusi pendidikan seperti IDE ART 2013 milik Despro ITS, hingga Children Playground pun kami hadirkan,” jelas Alex Kowalski, otak di balik Soledad & Sisters Co. salah satu penggagas gelaran empat bulanan ini.

Stan-stan lainnya juga menyediakan jasa-jasa unik seperti semir sepatu hingga sablon kaos. Di kiri-kanan panggung musik, misalnya, telah berjejer, masing-masing dua stan kreatif . Di sebelah kiri panggung berdiri stan “Potlach”, sebuah stan yang khusus menjual rilisan musik berbentuk apapun, mulai dari kaset, CD, piringan hitam, merchandise band, hingga beberapa zine musik.

Sementara di sebelah kanan panggung, berdiri tegak stan “Book Stall” yang menawarkan perpustakaan mini persembahan C20 Library, sebuah perpustakaan umum independen yang berada di Surabaya. Tak hanya buku-buku yang ditawarkan di stan ini, pengunjung pun dapat bergabung dengan klub Knit Knot, dimana pengunjung akan diajarkan bagaimana cara merajut pakaian.

“Intinya sih agar para penggiat kreatif kota Surabaya bisa berkumpul dan saling bertukar ide. Selain media dan kolaborasi, Surabaya masih kekurangan tempat dan agenda berkumpul untuk para pekerja dan pecinta seninya. Jika wadah dan agendanya sudah ada maka akan terjadi suatu kegiatan berbagi ide dan pengalaman yang diharapkan mampu menelurkan karya-karya baru yang lebih beragam,” lanjutnya lagi.

“Nantikan Sunday Market empat bulan lagi ya! Yang jelas akan ada tema baru lagi. Dua kali Sunday Market yang sudah diselenggarakan ini sebenarnya masih prototype kok.  Ada sebuah event yang lebih besar lagi yang kami rencanakan untuk mengumpulkan para penggiat kreatif kota Surabaya secara lebih masif. Seperti apa detailnya, itu masih rahasia. Karena itu, tunggu saja kejutan selanjutnya,” tutur Alex semangat. (zaq)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s