Pancaroba : Aksi Lima Band di Peralihan Musim

IMG_1446

Tak ada yang menyangka, hari rabu, 22 Mei lalu menjadi hari penuh keceriaan di musim yang tidak jelas. Pasalnya, gembong Kemarin Sore Radio yang bekerja sama dengan organizer CangCiMen membuat acara bertajuk “Pancaroba” untuk menyembuhkan para penikmat musik yang terkena demam karena panas dinginnya Surabaya.

Dengan konsep acara akustik yang diisi oleh 4 kelompok musik asal Surabaya dan 1 dari Lampung, ditambah dengan 8 artwork dalam bentuk postcard yang bisa didapat secara gratis, menjadikan acara tersebut terasa kehangatannya.

Acara yang berlokasi di Aiola ini diiringi musik dari Alepak, kelompok musik dari anak-anak jurusan  komunikasi Unair yang mengusung lagu berlirik jenaka sentuhan musik punk di dalamnya. Ini terlihat dari dibawakannya lagu unit punk rock asal Jakarta, Morfem, “Tidur Di Manapun, Bermimpi Kapanpun” di tengah-tengah penampilan mereka.

Senandung Sore, yang mengubah suasana sore petang menjadi malam berbalut rindu dengan lagu-lagu pop manis mereka; Taman Nada, yang selalu mengajak pulang para pendengarnya dengan lantunan lagu andalan mereka “Pulang” tampil pertama kali di hadapan publik dalam format band. Format baru ini secara langsung membuat musik mereka lebih meriah namun tetap singable.

Setelah Senandung Sore, giliran Afternoon Talk, tamu yang jauh-jauh datang dari Lampung untuk menyebarkan musik mereka sekaligus dalam rangka tur mereka yang kedua: Treasure Island Tour.

“Untuk tur kedua ini agak berbeda dengan tur yang pertama, kotanya. Kalau tur yang kedua ini kita mulai dari Bandung, terus ke Solo, baru ke Surabaya. Lalu ke Malang dan terakhir ke Bali. Tur ini dalam rangka promo album yang kedua: Contradiction,” ujar Ridwan, sang bassis.

Ini juga kali kedua Afternoon Talk datang ke Surabaya. Tur pertama mereka berhenti di C2O Library pada tahun lalu dengan membawa EP mereka yang pertama.

“Perbedaan yang paling menonjol dalam album kedua kami adalah musiknya. Jadi, kalau album pertama itu penggunaan instrumennya tidak terlalu banyak, cuman gitar, ukulele, vokal dan semacamnya. Kalau yang sekarang jadi lebih beragam. Ada glockenspiel, pianika, pakai perkusi, piano. Instrumennya jadi lebih banyak,” sahut vokalis cantik bertubuh mungil bernama Sofia. “Kalau dari segi lirik sih, album pertama lebih ke arah cinta-cintaan, sesuatu yang galau-galau gitu. Sedang album kedua lebih macam-macam. Ada kehidupan, pertarungan dengan diri sendiri.”

Sebagai puncak acara hadir duo jomblo Pathetic Experience yang konsisten membawakan lagu-lagu bernuansa folk etnik. “Kaca Enggal” dan beberapa lagu duo Dimas dan Bagus ini berhasil menutup acara pada malam itu dengans syahdunya.

Perpaduan tur dalam rangka promosi album yang diproduksi secara kolektif dari para panitia sekaligus dukungan penonton yang memadati lokasi membuahkan suatu gig yang benar-benar bernuansa indie.

”Pancaroba menjadi acara untuk menjauhi sikap orang-orang terhadap musim pancaroba yang terkesan dengan musimnya orang sakit, jadi mari kita nikmati setiap musim dengan bahagia dan salah satunya hal yang membuat bahagia adalah musik,” jawaban Atthur Razaki, vokalis Taman Nada dan konseptor acara ini. (abr/zaq)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s