THE LOST TAPES FROM SUROBOYO



OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebelum Payung Teduh menjamur di Indonesia, Surabaya lebih dulu punya folk band bernama Greats. Sebelum Sigur Ros menjamur di kuping teman-teman kamu, dulunya sudah ada band bernama Others yang track-track sampai menusuk gendang telinga, dan bahkan mungkin udah dengerin Sigur Ros, Slowdive cs duluan daripada teman-teman kamu.

Ini adalah 10 lagu milik arek suroboyo rekomendasi kami.  Memang tak pernah terdengar sampai di luar, bahkan mungkin tak pernah dirilis. Beberapa band ini tak pernah melahirkan album, sekalipun itu adalah sebuah EP. Beberapa band bahkan juga sudah buyar sebelum musik mereka masuk di telinga publik skena musik setempat ataupun di generasi musik sekarang.

Tulisan ini bukan untuk menunjukkan bahwa yang lalu selalu lebih enak ketimbang yang sekarang. Bahwa American Hardcore awal 80an akan selalu lebih enak ketimbang American Hardcore di era ini. Bukan.  Lebih tepatnya, tulisan ini untuk menunjukkan bahwa sekarang waktunya Surabaya diberikan warna yang lebih mencolok, warna yang melebihi era-era sebelumnya. Bukan warna hitam dan putih saja, tetapi juga merah, kuning, ungu, biru dan sebagainya.

Jangan berharap ada nama – nama beken dari Surabaya macam Heavy Monster, Dindapobia, Blingsatan, dan Devadata yang punya segudang basis penggemar dan lagu-lagu yang sudah terekam tak pernah mati. Siapa tak tahu “J.T.A (Jancok Taek Asu)” milik Devadata? Siapa yang nggak ikut bergoyang saat Heavy Monster membawakan “One Message One Love”?, atau Blingsatan yang terakhir sukses dengan album Melodi Emosi juga Dindapobia yang telah memiliki 3 album. Lagu – lagu mereka tak masuk dalam kategori dalam artikel The Lost Tape kali ini.

Jangan berharap pula ada nama – nama seperti Karpet yang sudah pernah menembus label EMI, Konsleting Kabel yang juga sudah merilis album penuh dalam bentuk kaset, atau bahkan Klepto Opera, Blukuthug, Jelly, Friday, dan teman – temannya. Kami tidak berada di angkatan itu dan refrensi kami belum sejauh itu, mengulik hingga tahun 90-an akhir sampai 2000-an awal. Jadi, mereka pun tidak masuk dalam kategori The Lost Tape kali ini.

Dan terakhir, jangan pula mengharap ada nama Vox di sini. Karena nama itu lah yang jelas – jelas tertanam di benak siapa saja, sekali pun orang awam penikmat musik lokal era 2000-an ke atas, yang memperhatikan scene musik Surabaya. Uniknya ketika Anda keluar dari kota Surabaya dan bertemu orang-orang sekelas kritikus musik atau editor in chief media musik di Ibukota sekalipun, nama “Vox” selalu menjadi yang pertama keluar sebagai band yang terakhir lahir dan berkesan dari kota Pahlawan.

Lebih lanjut kami nantinya akan membahas masalah ini secara mendalam di artikel lainnya. Dan tentu saja, haram bagi Vox masuk dalam daftar ini. Jadi, inilah 10 band Surabaya  plus single andalannya yang menelurkan lagu-lagu jagoannya namun tanpa pendokumentasian lagu tersebut dalam bentuk album penuh ataupun EP

Oh, sedikit lupa menginfokan, band-band ini belum kami mintai persetujuan jadi mohon maaf jika melanggar hak cipta ya he he he. Ada beberapa yang hanya ada videonya. Ada beberapa juga sudah ada di Soundcloud orang. Beberapa juga hanya punya myspacenya aja. Beberapa malahan udah ada di reverbnation. Gambar? Sama juga. Cuman ada beberapa tok. Toh artikel ini juga bukan buat jelek-jelekin lagunya, melainkan untuk mengenang yang sudah ada.

10. Greats – Gubeng Rendezvous

Seperti yang sudah-sudah ditulis di atas tadi, sebelum folk merajalela di era tahun 2012-2013, Surabaya sudah punya Greats di tahun 2008. Musiknya yang mengalun-ngalun dengan campuran antara folkdan keroncong (susunan yang baru ya), belum lagi tambahan liriknya yang mengena di hati karena membawa nama Surabaya seperti stasiun kereta Gubeng, membuat lagu ini mungkin bisa disetarakan dengan Angin Pujaan Hujan. Berani taruhan, Payung Teduh pun bakal bertanya “Sopo iki rek? Njaluk poo kontak e.” Oh mereka sempat kembali bermain ketika acaranya Despro ITS tahun lalu.

official reverbnationnya nih: http://www.reverbnation.com/greats

9.    TheNobodies – Everyminute Everyboring

Punk? Garage? Rock n Roll? Gak ngurus, sing penting iso nggarai joged. Macam pula itulah lagu-lagunya mereka. Iringan genjrengan gitar dengan sound yang kotor langsung pada awal permainan, pasti pikiran “yo iki rek” pasti langsung terbesit. Kalo sudah masuk lebih mendalam ke Riff nya, pasti joging di tempat sebelum saling resek satu sama lain di venue akan terjadi secara otomatis. Konon katanya band ini bukan buyar tapi vakum. Itu karena mereka sempat bermain di Phsyco Fest awal-awal tahun lalu.

jadi-0102

Nih link downloadnya: http://www.mediafire.com/download/p5ztmyu3ze0pjef/The+Nobodies+-+nobodies+is+nobody.rar

8.    LGCB – Koboi Djanggo

        Band ini masih eksis sampai saat ini. Meski sudah beberapa kali bongkar pasang personil, Let’s           Go C’mon Baby masih dapat kita saksikan penampilannya di beberapa gigs di tempat – tempat   dan acara yang strategis di kota Surabaya.

“Koboi Djanggo” kami kategorikan dalam The Lost Tape karena selain hanya dirilis dalam sebuah mini album, lagu ini merupakan awal mula perjalanan musik LGCB yang jarang sekali dibawakan di panggung – panggung mereka saat ini. Berbeda dengan lagu-lagu dari EP pertama lainnya seperti “Gundala Putra Petir” atau “Just Sex Not Love” yang masih sering dibawakan.

Terlebih saat LGCB merubah haluan bermusiknya dari rock and roll menjadi begitu hard rock belakangan ini. Lagu ini hanya sesekali dibawakan dengan versi barunya yang lebih hard rock, lalu jangan harap pernah dibawakan kembali.

oi-181063 (FILEminimizer)

Berikut versi lama “Koboi Djanggo” yang masih asyik >>

7.   Others – Fire For Freedom

Ngomongin band yang namanya Sigur Ros ya, itu tahunya pertama kali dari Others dan itu posisi tahun 2008an. Mereka menyampaikannya dengan lagu 3F ini. Gitar yang garang, ditambah suasana kelam yang terasa tapi punya gebukan drum yang mantap, menjadikan lagu ini awal mula yang bagus buat mencoba dengerin lagu-lagu yang sekarang ini disebut post/dreamwork. Sepertinya Others belum buyar karena sempat beberapa kali mereka menerima beberapa ajakan untuk bermain, yang sayang selalu ada kendala untuk membuat mereka tidak jadi manggung. Hanya EP yang pernah dirilis dan pastinya EP itu sangat susah untuk dicari.

untuk myspace resmi mereka: https://myspace.com/othersbionic4/music/song/fire-for-freedom-34201483-33991854

6.   SmellStreet – Blur Sounds Good

Cari yang khas, yang gag bakal ditemuin di tempat lain dengan nuansa ethnic culture yang berbeda, semacam Ramayana Soul gitu? Coba band ini. Di soundcloud atau reverbnation, alirannya bertuliskan arabic phscedelic rock. Hmmm, paling gampang buat tahu maksudnya ya dengerin langsung lagunya. Denting gitar dan tempo slow ala Ampel terasa luas di Blur Sounds Good. Yakin, imajinasi ala video klip Tenacious D yang ada api-apinya bisa nyata dengan dengar track ini.

Cek di sini buat download seluruh musik mereka: http://smellstreet.blogspot.com/

5.   Albert & The Product –Eddie Sapi Aneh

Pschedelic indie pop dengan sentuhan ala The Upstairs di awal-awal karir mereka sempat tersaji kelompok musik yang pernah masuk L.A. Lights Indiefest tahun ke-2 ini. Lirik aneh tapi sekaligus ceria, aksi panggung yang juga tidak jelas karena banyak omong dan entahlah, jadi daya tarik band ini. Track yang ini dibuat di awal-awal, ketika terbentuk band dengan formasi original. Sayang, setelah ditinggal gitaris dan mengganti hampir seluruh personilnya, kecuali sang vokalis, mereka hiatus dari dunia musik semenjak event British Invansion. Sampai saat ini masih diperdebatkan mengapa singkatannya ANTP, bukan AATP.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

officialnya mereka: https://myspace.com/albertntheproduct

4.   Janedonna – Release Me

Mereka adalah salah satu band pop alternatif yang patut diperhitungkan di Surabaya.  Terbentuk sejak 2005, Janedonna tak meninggalkan sebuah album penuh pun hingga kini. Sempat masuk ke dalam daftar 40 finalis nasional LA Lights Indiefest tahun 2007, Janedonna pun sempat mondar – mandir dari gigs ke gigs di tahun yang sama. Lagu nya juga sering diputar di radio -radio ketika itu. “Release Me” adalah single pertama mereka yang masuk di EP mereka berjudul Release Us. Sayangnya EP ini hanya diedarkan via dunia maya. Kalaupun ada fisiknya, mungkin hanya berjumlah sangat terbatas dan diedarkan di kalangan terbatas pula. Hahaha.

official my space mereka: https://myspace.com/janedonnatheband

3.    Under My Throat – Immoral

Dari indie pop, post rock, sekarang turun ke death metal. Beranggotakan 4 orang, gebrakan sound ala metal-metal (ya emang genrenya metal) dan bunyi tulalit-tulalit efek gitarnya disambut double pedal seperti mengayuh bebek-bebekan di TMII, membuat otomatis berheadbang danlupa bahwa esok harus kerjo atau kuliah. Hmmm, mendengarkan track mereka jadi teringat betapa menyebalkannya ketika Magnetzone mulai menjadi venue andalan Metal SMA. 1 hal lagi, sebenarnya agak sulit menjabarkan musik UMT karena sebenarnya bukan track ini yang dicari. Apa daya, judulnya lupa jadi harus pakai track yang ada, yang paling enak.

masih sama, official mereka: https://myspace.com/undermythroatmetal

 2.   D’arts – On The Roof

Bayangkan, kumpulan anak-anak SMA sudah bisa bermain musik, yah bisa dibilang mahal, jazz tapi tidak sekedar mengcover lagu di era itu. Bedakan sama SMADA Big band. Mbok, itu benar-benar jadi kejutan. Tidak menyangka musik seperti itu ada di venue Aiola. Suara vokalis yang benar-benar ngejazz banget disambung latar musik yang memang jazzy. 1 kata: wow. Tetapi, untuk kesekian kalinya kata ini muncul, sayang kembali-bali band yang punya potensi kuat harus buyar. Sebabnya, vokalis yang bagaikan bidadari turun dari khayangan harus studi ke luar kota. Duh, emane.

https://myspace.com/dartproject/music/songs

1.     Radif – Tertidur Tanpa Cinta

Band ini nyaris tanpa rekam jejak. Bahkan untuk mencarinya di mesin pencari kata Google, Radif minim sekali hasil pencarian. Entah apa yang pernah dirilis Radif yang bisa dinikmati, atau seenggaknya dicari arek-arek enom Suroboyo sing band-band-an saiki.

Untungnya lagu “Tertidur Tanpa Cinta” masih bisa dilacak dan kita nikmati bersama. Lagu ini sempat mondar – mandir chart radio medio pertengahan dekade 2000-an. Juga dibawakan Radiff di beberapa gigs mereka. Iki lho lagune :

Sebenarnya masih banyak lagi band Surabaya yang musiknya enak-enak, tapi namanya juga hampir hilang saat ini. Sebut saja Titikkoma, Kick Larry, HiMom, Polkapolizei, Delayed Desire, Frontliner, My Father is John, Boots, Youngmen and His World, Lovely Tea, Siberian Husky dan banyak lagi.

Tapi memang, karena kami bukan majalah Rollingstone yang profesional, yang mampu mengumpulkan 100 macam materi, kami tidak mungkin memasukkan semua band dari setiap skena yang ada. Kami hanya bisa memilih lagu-lagu tersebut yang mewakili tiap genre. Mungkin, alangkah baiknya dan jika berkenan, teman-teman bisa berbagi lagi musik-musik kawan kita yang terlupakan di bawah ini.

Tambahan informasi: urutan di atas tidak menunjukkan peringkat. Artinya semua band yang disebutkan memiliki kualitas musik yang sama rata. Kenapa hitungan mundur? Soalnya kita udah bosan hitungan maju. (redaksi Praotozine)

Foto oleh: Denan Bagus

Advertisements

2 thoughts on “THE LOST TAPES FROM SUROBOYO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s